Berita

info
  • 2025-09-26 14:43:10

Bandung,18/9/2025 — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Direktorat Bimbingan Konseling, Difusi, Inklusi dan Pengembangan Karir mengadakan pertemuan dengan SeeMeSol pada hari Kamis, 18 September 2025. Pertemuan ini bertujuan untuk menjalin sinergi dalam bidang maupun rekrutmen lulusan, serta rencana kerja sama dalam pengembangan aplikasi berbasis web.

Temu Ruang Aspirasi
  • 2025-11-10 07:58:58

Bandung, 2025 — Direktorat Bimbingan Konseling Difusi Inklusi dan Pengembangan Karir (BKDIPK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Temu Ruang Aspirasi Mahasiswa Berkebutuhan Khusus sebagai wadah diskusi dan penyampaian aspirasi dari mahasiswa penyandang disabilitas. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Yusi Riksa Yustiana, M.Pd., Direktur BKDIPK UPI, dan Dr. Een Ratnengsih, M.Pd., Kepala Divisi Difusi Inklusi BKDIPK UPI, sebagai narasumber utama, membahas beragam pengalaman dan hambatan, serta usulan mahasiswa berkebutuhan khusus (MBK) di UPI, mulai dari proses penerimaan mahasiswa baru, masa perkuliahan, hingga menjelang kelulusan. Diskusi mengungkap berbagai tantangan yang masih dihadapi mahasiswa penyandang disabilitas, baik dari aspek akademik, fasilitas, maupun dukungan sosial. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai fakultas, orang tua mahasiswa penyandang autisme, serta relawan pendamping. Para peserta seperti Naufal (S2 UPI), Riko (FPIPS), Siti (Tata Boga), Rama (FPSD), hingga Bintang (PKh) menyampaikan aspirasi yang mencerminkan kondisi nyata mahasiswa disabilitas di lingkungan kampus.

Kegiatan dilaksanakan di lingkungan kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sebagai bagian dari agenda Direktorat BKDIPK dalam memperkuat implementasi kampus inklusi, bertujuan mengidentifikasi kebutuhan nyata mahasiswa berkebutuhan khusus sekaligus memperkuat komitmen UPI sebagai kampus inklusif. Dr. Yusi Riksa Yustiana menegaskan pentingnya mendengarkan langsung suara mahasiswa agar kebijakan yang disusun berbasis kebutuhan riil di lapangan, bukan asumsi. “Mahasiswa berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama atas akses pendidikan tinggi. Kampus harus menjadi ruang yang aman, ramah, dan setara bagi semua,” ujar Dr. Yusi.

Dari kegiatan, muncul sejumlah rekomendasi penting yang dirangkum menjadi tiga fase utama:
           Perlu adanya proses screening sejak awal pendaftaran untuk mengidentifikasi calon mahasiswa penyandang disabilitas, penambahan jumlah pendamping, serta penyediaan informasi relawan yang lebih luas. Sistem akademik seperti SIAK dan SIAS juga diharapkan lebih aksesibel dan kompatibel dengan screen reader.

            Mahasiswa menyoroti kebutuhan akan juru bahasa isyarat profesional, pelatihan bagi dosen dan tenaga kependidikan, serta perbaikan fasilitas fisik kampus seperti guiding block, toilet aksesibel, dan jalur pejalan kaki aman. Selain itu, dosen diminta menggunakan mikrofon dan menyediakan materi video bersubtitel agar seluruh mahasiswa dapat mengakses pembelajaran secara adil.

Diusulkan penguatan layanan inklusi digital melalui platform konsultasi daring, grup WhatsApp, hingga kanal YouTube panduan. Selain itu, ada permintaan untuk penyesuaian standar tes seperti PTESOL bagi mahasiswa autisme atau dengan hambatan bahasa.

Kegiatan ini secara langsung mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan memastikan akses pendidikan yang inklusif dan setara bagi semua kalangan. Selain itu, aspirasi yang disampaikan sejalan dengan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui upaya menghapus diskriminasi dan meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Dari sisi kelembagaan, forum ini juga memperkuat implementasi SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), dengan mendorong tata kelola kampus yang partisipatif dan responsif terhadap keberagaman mahasiswa.

Para peserta berharap agar hasil forum ini menjadi pijakan bagi kebijakan kampus yang lebih konkret, baik dalam bentuk fasilitas, regulasi, maupun pelatihan sumber daya manusia.
“Jika UPI mampu menerapkan prinsip inklusi secara menyeluruh, bukan hanya di tataran akademik tetapi juga sosial dan digital, maka cita-cita Kampus Inklusif Nasional bukan hal yang mustahil,” tutup Dr. Een Ratnengsih.

Dengan berlangsungnya forum ini, UPI memperkuat posisinya sebagai pelopor kampus inklusif di Indonesia — tempat di mana setiap mahasiswa, tanpa terkecuali, dapat tumbuh, belajar, dan berkontribusi secara setara.

Temu Ruang Aspirasi Mahasiswa Berkebutuhan Khusus
  • 2025-11-10 10:11:40

Bandung, 2025 — Direktorat Bimbingan Konseling Difusi Inklusi dan Pengembangan Karir (BKDIPK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Temu Ruang Aspirasi Mahasiswa Berkebutuhan Khusus sebagai wadah diskusi dan penyampaian aspirasi dari mahasiswa penyandang disabilitas. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Yusi Riksa Yustiana, M.Pd., Direktur BKDIPK UPI, dan Dr. Een Ratnengsih, M.Pd., Kepala Divisi Difusi Inklusi BKDIPK UPI, sebagai narasumber utama.

             Forum ini membahas beragam pengalaman, hambatan, serta usulan mahasiswa berkebutuhan khusus (MBK) di UPI, mulai dari proses penerimaan mahasiswa baru, masa perkuliahan, hingga menjelang kelulusan. Diskusi mengungkap berbagai tantangan yang masih dihadapi mahasiswa penyandang disabilitas, baik dari aspek akademik, fasilitas, maupun dukungan sosial.

            Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai fakultas, orang tua mahasiswa penyandang autisme, serta relawan pendamping. Para peserta seperti Naufal (S2 UPI), Riko (FPIPS), Siti (Tata Boga), Rama (FPSD), hingga Bintang (PKh) menyampaikan aspirasi yang mencerminkan kondisi nyata mahasiswa disabilitas di lingkungan kampus.

Kegiatan dilaksanakan di lingkungan kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sebagai bagian dari agenda Direktorat BKDIPK dalam memperkuat implementasi kampus inklusi.

            Forum ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan nyata mahasiswa berkebutuhan khusus sekaligus memperkuat komitmen UPI sebagai kampus inklusif. Dr. Yusi Riksa Yustiana menegaskan pentingnya mendengarkan langsung suara mahasiswa agar kebijakan yang disusun berbasis kebutuhan riil di lapangan, bukan asumsi.

“Mahasiswa berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama atas akses pendidikan tinggi. Kampus harus menjadi ruang yang aman, ramah, dan setara bagi semua,” ujar Dr. Yusi.

Dari diskusi, muncul sejumlah rekomendasi penting yang dirangkum menjadi tiga fase utama:
           Perlu adanya proses screening sejak awal pendaftaran untuk mengidentifikasi calon mahasiswa penyandang disabilitas, penambahan jumlah pendamping, serta penyediaan informasi relawan yang lebih luas. Sistem akademik seperti SIAK dan SIAS juga diharapkan lebih aksesibel dan kompatibel dengan screen reader.

            Mahasiswa menyoroti kebutuhan akan juru bahasa isyarat profesional, pelatihan bagi dosen dan tenaga kependidikan, serta perbaikan fasilitas fisik kampus seperti guiding block, toilet aksesibel, dan jalur pejalan kaki aman. Selain itu, dosen diminta menggunakan mikrofon dan menyediakan materi video bersubtitel agar seluruh mahasiswa dapat mengakses pembelajaran secara adil.

Diusulkan penguatan layanan inklusi digital melalui platform konsultasi daring, grup WhatsApp, hingga kanal YouTube panduan. Selain itu, ada permintaan untuk penyesuaian standar tes seperti PTESOL bagi mahasiswa autisme atau dengan hambatan bahasa.

Kegiatan ini secara langsung mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan memastikan akses pendidikan yang inklusif dan setara bagi semua kalangan. Selain itu, aspirasi yang disampaikan sejalan dengan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui upaya menghapus diskriminasi dan meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Dari sisi kelembagaan, forum ini juga memperkuat implementasi SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), dengan mendorong tata kelola kampus yang partisipatif dan responsif terhadap keberagaman mahasiswa.

Para peserta berharap agar hasil forum ini menjadi pijakan bagi kebijakan kampus yang lebih konkret, baik dalam bentuk fasilitas, regulasi, maupun pelatihan sumber daya manusia.
“Jika UPI mampu menerapkan prinsip inklusi secara menyeluruh, bukan hanya di tataran akademik tetapi juga sosial dan digital, maka cita-cita Kampus Inklusif Nasional bukan hal yang mustahil,” tutup Dr. Een Ratnengsih.

Dengan berlangsungnya forum ini, UPI memperkuat posisinya sebagai pelopor kampus inklusif di Indonesia — tempat di mana setiap mahasiswa, tanpa terkecuali, dapat tumbuh, belajar, dan berkontribusi secara setara.

#SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) #SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) #SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh)

 

 

Focus Group Discussion (FGD) 2025
  • 2025-11-12 10:49:04

Bandung, 5 November 2025 — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Direktorat Bimbingan Konseling, Difusi Inklusi, dan Pengembangan Karir (BKDIPK) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Membangun Sinergi Kampus dan Industri Menuju SDM Unggul di Era Digital” di Hotel Bumi Siliwangi My Hospitality, Bandung.Kegiatan ini menjadi langkah strategis UPI dalam memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri guna mencetak lulusan yang adaptif, inovatif, dan kompetitif di tengah transformasi digital yang kian pesat. FGD ini menghadirkan berbagai mitra industri strategis seperti PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), PT Len Industri (Persero), Bank Mandiri, PT Gondowangi Tradisional Kosmetika, PT PLN Persero Subang, Sekolah Terpadu Bintang, serta PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis, Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M.Pd., dengan laporan kegiatan oleh Direktur BKDIPK, Dr. Yusi Riksa Yustiana, M.Pd. Pembukaan dipandu oleh Dr. Een Ratnengsih, M.Pd., yang juga bertugas sebagai Master of Ceremony sekaligus moderator bersama Prof. Dr. Ilfiandra, M.Pd., dan Dr. Joni Rahmat Pramudia, M.Si.Dalam sesi diskusi, para perwakilan industri menyampaikan pandangan mengenai pentingnya keselarasan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.Perwakilan dari PT Len Industri (Persero), misalnya, menekankan perlunya kolaborasi dalam inovasi teknologi berbasis riset kampus.“Kami melihat UPI memiliki potensi luar biasa dalam pengembangan riset terapan dan inovasi digital. Kolaborasi seperti ini menjadi kunci membangun ekosistem industri yang berkelanjutan,” ujar perwakilan PT Len Industri.Sementara itu, PT KCIC menyoroti pentingnya pembentukan karakter profesional mahasiswa melalui kegiatan magang industri.“Kami berharap sinergi ini tidak hanya menghasilkan tenaga kerja kompeten, tetapi juga membentuk SDM yang disiplin, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global,” ungkap perwakilan PT KCIC.Pihak UPI melalui Dr. Yusi Riksa Yustiana, M.Pd., menegaskan bahwa sinergi kampus dan industri adalah pilar utama dalam mengimplementasikan pendidikan berorientasi masa depan.“Kampus harus menjadi ruang kolaborasi yang hidup. Melalui kemitraan ini, kami memastikan lulusan UPI tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan industri modern,” jelasnya.Kegiatan ini juga meneguhkan komitmen UPI terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya: SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan sistem pembelajaran kolaboratif yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan membuka jalur kerja sama magang dan penempatan kerja bagi mahasiswa.dan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, dengan mendorong riset dan inovasi bersama untuk memperkuat daya saing nasional.Melalui forum ini, UPI berupaya memperluas jejaring kerja sama lintas sektor dan memastikan setiap lulusan memiliki daya saing global, serta menjadi agen perubahan dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Tingkat Kepuasan Pengguna Lulusan (dampak)
  • 2026-08-11 08:55:44

Berdasarkan hasil tracer study dan umpan balik pengguna lulusan, tingkat serapan lulusan menunjukkan kecenderungan positif dengan kesesuaian yang baik antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Analisis terhadap masa tunggu kerja, relevansi bidang pekerjaan, dan kebutuhan kompetensi menunjukkan pentingnya penguatan keterampilan profesional, pedagogik, dan soft skills. Menindaklanjuti hasil evaluasi tersebut, program studi meningkatkan pembelajaran berbasis praktik, memperluas kemitraan dengan sekolah, industri, dan lembaga profesi, serta memperkuat kegiatan proyek dan pengalaman lapangan. Dampaknya terlihat pada meningkatnya kesiapan kerja lulusan, kemampuan adaptasi terhadap dunia kerja, dan meningkatnya relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan pengguna.

No

Status Pekerjaan

2022

2023

2024

 

 

Jml

%

Jml

%

Jml

%

1

Bekerja

3795

62,02%

4698

58,80%

5608

69,15%

2

Belum Memungkinkan untuk Bekerja

1232

20,13%

1005

12,58%

1096

13,51%

3

Berwiraswasta

475

7,76%

617

7,72%

721

8,89%

4

Melanjutkan Pendidikan

617

10,08%

931

11,65%

518

6,39%

5

Bekerja Luar Negeri

22

0,36%

21

0,26%

33

0,41%

 

TOTAL

6119

 

7272

 

7976

 

Data tracer study terhadap status pekerjaan lulusan pada periode tahun 2022 hingga 2024 memberikan gambaran yang komprehensif mengenai capaian program studi dalam mempersiapkan lulusannya untuk memasuki dunia kerja, bersaing di pasar kerja global, melanjutkan pendidikan, maupun membangun usaha secara mandiri (wirausaha). Berdasarkan data yang terhimpun, jumlah total responden lulusan yang berhasil terlacak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yaitu sebanyak 6.119 orang pada tahun 2022, meningkat menjadi 7.272 orang pada tahun 2023, dan kembali meningkat menjadi 7.976 orang pada tahun 2024. Peningkatan jumlah responden ini menunjukkan semakin baiknya sistem penelusuran alumni (tracer study) Universitas Pendidikan Indonesia, sehingga data yang dihasilkan semakin representatif dan dapat dijadikan dasar evaluasi serta pengambilan kebijakan yang lebih akurat. Serapan Lulusan di Dunia Kerja Kategori "Bekerja" merupakan indikator utama yang mencerminkan tingkat keterserapan lulusan di pasar tenaga kerja domestik maupun institusi/organisasi tempat mereka bekerja. Data menunjukkan bahwa jumlah lulusan yang telah bekerja terus mengalami peningkatan secara konsisten selama tiga tahun terakhir, yaitu 3.795 orang (62,02%) pada tahun 2022, meningkat menjadi 4.698 orang (58,80%) pada tahun 2023, dan mencapai 5.608 orang (69,15%) pada tahun 2024. Pencapaian yang paling menggembirakan terlihat pada tahun 2024, di mana persentase lulusan yang bekerja melonjak signifikan menjadi 69,15%, tertinggi selama periode pengamatan tiga tahun terakhir. Peningkatan ini mengindikasikan beberapa hal positif, di antaranya: (1) semakin relevannya kurikulum dan kompetensi yang dibekalkan program studi dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja (IDUKA), (2) semakin kuatnya jejaring kemitraan program studi dengan berbagai instansi dan perusahaan dalam penyaluran lulusan, serta (3) semakin membaiknya soft skill dan kesiapan kerja (job readiness) lulusan dalam menghadapi proses rekrutmen. Aspek keterserapan lulusan pada pasar kerja global atau internasional merupakan salah satu indikator daya saing lulusan pada level yang lebih luas, sekaligus mencerminkan sejauh mana program studi mampu membekali lulusannya dengan kompetensi yang diakui secara internasional. Berdasarkan data yang ada, jumlah lulusan yang bekerja di luar negeri masih tergolong sangat terbatas, yaitu sebanyak 22 orang (0,36%) pada tahun 2022, 21 orang (0,26%) pada tahun 2023, dan meningkat menjadi 33 orang (0,41%) pada tahun 2024.

Meskipun secara nominal terjadi peningkatan pada tahun 2024, secara proporsional kontribusi kategori ini terhadap keseluruhan lulusan masih berada di bawah satu persen sepanjang periode pengamatan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa orientasi dan kesempatan lulusan untuk berkarier di pasar kerja internasional masih menjadi area yang perlu mendapat perhatian dan pengembangan lebih lanjut oleh program studi maupun institusi secara keseluruhan.

menunjukkan capaian yang secara umum positif dan menggembirakan pada aspek serapan lulusan di dunia kerja, dengan persentase yang terus meningkat hingga mencapai 69,15% pada tahun 2024. Kategori wirausaha juga menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil dan konsisten, mencerminkan keberhasilan program pembekalan kewirausahaan yang dijalankan oleh program studi. Di sisi lain, terdapat dua aspek yang memerlukan perhatian dan strategi pengembangan lebih lanjut, yaitu rendahnya kontribusi lulusan pada pasar kerja global yang masih berada di bawah satu persen, serta penurunan signifikan minat melanjutkan pendidikan pada tahun 2024.

Berdasarkan temuan tersebut, beberapa rekomendasi strategis yang dapat dipertimbangkan oleh program studi antara lain: (1) mempertahankan dan meningkatkan kualitas kurikulum serta kerja sama dengan IDUKA guna menjaga tren positif serapan kerja; (2) memperkuat pembekalan bahasa asing dan sertifikasi kompetensi internasional untuk meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja global; (3) menggencarkan sosialisasi peluang beasiswa dan pentingnya studi lanjut guna menjaga keseimbangan orientasi karier dan akademik lulusan; serta (4) melanjutkan dan memperluas program inkubasi kewirausahaan guna mempertahankan tren pertumbuhan positif pada kategori wirausaha. Dengan strategi yang tepat dan berkelanjutan, diharapkan capaian pada seluruh kategori dapat terus mengalami perbaikan pada periode-periode pelaporan berikutnya, sekaligus memperkuat mutu dan daya saing lulusan program studi secara menyeluruh.

Proses pembelajaran wajib diperbaiki dan ditingkatkan secara berkelanjutan oleh perguruan tinggi
  • 2026-08-11 09:14:29

Tracer Study UPI 2022–2024: Serapan Kerja Lulusan Meningkat, Daya Saing Global Masih Perlu Diperkuat

Bandung — Hasil tracer study Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) periode 2022–2024 menunjukkan perkembangan positif dalam penelusuran status lulusan sekaligus capaian serapan lulusan di dunia kerja. Data tersebut memberikan gambaran mengenai keberhasilan program studi dalam mempersiapkan lulusan untuk memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, berwirausaha, maupun berkompetisi di pasar kerja internasional.

Jumlah lulusan yang berhasil terlacak melalui tracer study menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022 tercatat sebanyak 6.119 responden, kemudian meningkat menjadi 7.272 responden pada 2023 dan mencapai 7.976 responden pada 2024. Peningkatan tersebut menunjukkan semakin efektifnya sistem penelusuran alumni UPI. Cakupan responden yang semakin luas juga memperkuat kualitas data sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan pendidikan dan dasar pengambilan kebijakan institusi.

Serapan Kerja Meningkat pada 2024

Salah satu capaian utama terlihat pada kategori lulusan yang telah bekerja. Pada 2022, sebanyak 3.795 lulusan atau 62,02 persen tercatat telah bekerja. Jumlah tersebut meningkat menjadi 4.698 lulusan pada 2023, meskipun secara persentase berada pada angka 58,80 persen. Pada 2024, jumlah lulusan yang bekerja kembali mengalami peningkatan menjadi 5.608 orang atau 69,15 persen.

Capaian 2024 menjadi persentase tertinggi selama periode pengamatan. Peningkatan tersebut menunjukkan semakin kuatnya keterhubungan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Kondisi ini juga dapat menjadi indikasi positif atas relevansi kurikulum, penguatan jejaring kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), serta peningkatan kesiapan kerja lulusan.

Selain kompetensi akademik, kesiapan memasuki dunia kerja juga dipengaruhi oleh kemampuan komunikasi, adaptasi, pemecahan masalah, kerja sama, dan keterampilan profesional lainnya. Karena itu, tren peningkatan serapan kerja menjadi salah satu indikator penting dalam mengevaluasi kesesuaian proses pembelajaran dengan dinamika kebutuhan pasar kerja.

Peluang Karier Internasional Masih Terbatas

Di tengah peningkatan serapan kerja secara keseluruhan, keterserapan lulusan pada pasar kerja internasional masih menjadi tantangan. Data tracer study mencatat 22 lulusan atau 0,36 persen bekerja di luar negeri pada 2022. Angka tersebut menjadi 21 lulusan atau 0,26 persen pada 2023 dan meningkat menjadi 33 lulusan atau 0,41 persen pada 2024.

Meskipun jumlah lulusan yang bekerja di luar negeri meningkat pada 2024, proporsinya masih berada di bawah satu persen dari keseluruhan lulusan yang terlacak. Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang dan orientasi karier internasional masih perlu diperluas.

Penguatan kemampuan bahasa asing, sertifikasi kompetensi yang diakui secara internasional, pengembangan jejaring dengan perusahaan dan institusi luar negeri, serta penyediaan informasi mengenai peluang kerja global dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing lulusan di tingkat internasional.

Wirausaha Tumbuh, Studi Lanjut Perlu Mendapat Perhatian

Selain bekerja, kategori wirausaha juga menunjukkan perkembangan yang positif. Tren pertumbuhan tersebut mencerminkan adanya potensi dan kesiapan sebagian lulusan untuk menciptakan lapangan kerja secara mandiri. Capaian ini sekaligus menjadi indikator penting bagi keberlanjutan program pengembangan kewirausahaan di lingkungan program studi.

Di sisi lain, minat lulusan untuk melanjutkan pendidikan perlu menjadi perhatian. Setelah menunjukkan perkembangan pada periode sebelumnya, kategori studi lanjut mengalami penurunan pada 2024. Kondisi tersebut perlu dicermati lebih lanjut untuk mengetahui faktor yang memengaruhi keputusan lulusan dalam memilih jalur pendidikan lanjutan dibandingkan memasuki dunia kerja atau membangun usaha.

Perguruan tinggi dan program studi dapat memperkuat sosialisasi mengenai berbagai peluang studi lanjut, beasiswa, serta jalur pendidikan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi lulusan. Langkah tersebut penting untuk menjaga keseimbangan antara orientasi karier dan pengembangan kapasitas akademik.

Strategi Penguatan Mutu dan Daya Saing Lulusan

Secara keseluruhan, hasil tracer study 2022–2024 menunjukkan capaian yang positif, khususnya pada aspek serapan lulusan di dunia kerja. Persentase lulusan yang bekerja mencapai 69,15 persen pada 2024, menjadi capaian tertinggi selama periode pengamatan. Pertumbuhan pada kategori wirausaha juga menunjukkan potensi positif dalam pengembangan kemandirian lulusan.

Namun, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat, terutama peningkatan akses lulusan terhadap pasar kerja internasional dan penguatan kembali orientasi studi lanjut.

Untuk mempertahankan tren positif tersebut, sejumlah strategi dapat dilakukan, antara lain mempertahankan relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja, memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri, memperkuat pembelajaran bahasa asing dan sertifikasi kompetensi internasional, serta meningkatkan layanan informasi karier dan studi lanjut.

Pada saat yang sama, program inkubasi dan pendampingan kewirausahaan perlu terus dikembangkan agar lulusan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang kerja.

Dengan penguatan strategi secara berkelanjutan dan berbasis data tracer study, UPI diharapkan mampu meningkatkan kualitas, relevansi, dan daya saing lulusan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Data penelusuran alumni juga dapat terus dimanfaatkan sebagai instrumen evaluasi untuk memastikan proses pendidikan berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, dan perkembangan global.