Berita

TRANSISI ENERGI BERSIH INDONESIA BUTUHKAN RATUSAN RIBU TENAGA KERJA BARU HINGGA 2045
  • 2026-03-13 14:11:58

Bandung, 13 Maret 2026

Transisi energi bersih di Indonesia bukan sekadar urusan lingkungan hidup, melainkan juga membuka peluang lapangan kerja baru dalam skala besar. Hal itu ditegaskan oleh Dr. Acep Purqon, Ph.D., Associate Professor bidang Fisika Bumi dan Sistem Kompleks dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam webinar Green Jobs Talks #15 yang digelar secara daring pada Jumat, 13 Maret 2026.

Webinar bertajuk "Designing and Driving Indonesia's Clean Energy System" ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Road to Indonesia Green Jobs Summit 2026 yang diselenggarakan oleh Inovasi Muda bekerja sama dengan Indonesia Green Jobs. Acara diikuti oleh mahasiswa, akademisi, praktisi industri, serta masyarakat umum yang memiliki minat terhadap pengembangan energi terbarukan.

Dalam pemaparannya, Dr. Acep menyoroti besarnya potensi sumber energi terbarukan yang dimiliki Indonesia, mulai dari tenaga surya, angin, panas bumi, hingga mikrohidro. Namun, ia menekankan bahwa pemanfaatan potensi tersebut masih memerlukan dukungan teknologi, kebijakan yang kuat, serta ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten.

Empat Profesi Hijau yang Diprediksi Berkembang Pesat

Dr. Acep memperkenalkan empat jenis profesi hijau yang diperkirakan akan memiliki permintaan tinggi seiring dengan percepatan transisi energi nasional. Pertama adalah Renewable Energy Engineer, yakni insinyur yang bertugas merancang, mengembangkan, dan mengoperasikan sistem energi terbarukan. Profesi ini mencakup berbagai spesialisasi, mulai dari engineer desain sistem energi, system integration engineer, hingga grid engineer yang mengelola integrasi energi terbarukan ke dalam jaringan listrik nasional.

Kedua, Solar PV Technician atau teknisi panel surya yang bekerja langsung di lapangan untuk instalasi, pemeliharaan, dan perbaikan sistem panel surya. Menurut Dr. Acep, satu orang engineer energi surya pada umumnya membutuhkan lima hingga sepuluh teknisi untuk mendukung pelaksanaan proyek. "Ini berarti kebutuhan tenaga teknis di bidang energi surya jauh lebih besar dibandingkan yang banyak orang bayangkan," ujarnya.

Profesi ketiga yang disoroti adalah Climate Data Scientist, yakni ilmuwan data yang menggabungkan keahlian data science, ilmu iklim, dan remote sensing. Tugas utamanya meliputi prediksi perubahan iklim berdasarkan data historis, perencanaan sistem energi berkelanjutan, serta pengembangan sistem carbon accounting. Dr. Acep menyebutkan bahwa berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI) dan analisis big data akan semakin mendorong pertumbuhan profesi ini ke depannya.

Keempat adalah Carbon Market Analyst, profesi yang lahir seiring berkembangnya sistem perdagangan karbon global. Dalam sistem ini, perusahaan yang berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca dapat memperoleh carbon credit yang dapat diperdagangkan. Bidang ini mencakup pekerjaan di antaranya carbon accounting, verifikasi kredit karbon, hingga perdagangan karbon di pasar internasional.

Potensi Ekonomi Karbon Indonesia

Dr. Acep turut menekankan besarnya potensi pasar karbon Indonesia yang bersumber dari sektor kehutanan, mangrove, dan pertanian. Ia menyebut bahwa industri karbon di masa depan berpotensi berkembang menjadi industri bernilai miliaran dolar, sekaligus memberikan manfaat ganda bagi lingkungan dan perekonomian nasional.

Secara keseluruhan, Dr. Acep memproyeksikan bahwa kebutuhan tenaga kerja di sektor energi bersih dapat mencapai ratusan ribu pekerja hingga tahun 2045, seiring dengan target ambisius pemerintah dalam pembangunan pembangkit energi terbarukan.

Webinar ini menjadi bagian dari upaya Inovasi Muda dan Indonesia Green Jobs dalam mempersiapkan generasi muda untuk memasuki pasar kerja hijau yang terus berkembang. Rangkaian Green Jobs Talks akan berlanjut menuju puncaknya di Indonesia Green Jobs Summit 2026, yang diharapkan menjadi forum strategis bagi pemangku kepentingan dalam mendorong percepatan transisi energi dan penciptaan lapangan kerja berkelanjutan di Indonesia