Ramadan sebagai Ruang Tumbuh: Guru BK Madrasah Perkuat Kompetensi Hadapi Generasi Z
Di tengah deru perubahan yang menuntut pendidik terus beradaptasi, Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling Madrasah Aliyah (MGBK MA) Provinsi Jawa Barat bersama Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) UIN Sunan Gunung Jati Bandung memilih momen Ramadan untuk menggelar refleksi kolektif. Pada Rabu, 25 Februari 2026, kedua lembaga menyelenggarakan webinar nasional bertema “Ramadan sebagai Momentum Penguatan Kompetensi Konseling Praktis Guru BK dalam Menghadapi Kompleksitas Karakter Siswa Generasi Z” secara daring melalui Zoom sekaligus disiarkan langsung di YouTube.
Kegiatan ini diikuti ratusan guru BK dari 77 Madrasah Aliyah Negeri se-Jawa Barat, madrasah aliyah swasta, serta rekan-rekan guru BK dari berbagai provinsi di Indonesia—termasuk jenjang SMP, MTs, dan SMA. Antusiasme peserta mencerminkan besarnya kebutuhan lapangan akan forum penguatan kompetensi yang relevan dan aplikatif.
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Sunan Gunung Jati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., setelah sambutan Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, H. Dudu Rohmana, S.Ag., M.Si., serta laporan Ketua MGBK MA Jabar, Siti Kulsum, S.Psi., M.Pd. Dalam sambutannya, Rektor meletakkan kerangka filosofis yang menjadi benang merah seluruh sesi webinar:
“Jika Ramadan membentuk jiwa yang kuat, maka guru BK memastikan jiwa itu tidak kehilangan arah. Kalau sekolah membangun intelektualitas, guru BK menjaga kemanusiaan.”
— Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., Rektor UIN Sunan Gunung Jati Bandung


NILAI RAMADAN SEBAGAI FONDASI KONSELING PROFESIONAL
Sesi pertama menghadirkan Dr. Yusi Riksa Yustiana, M.Pd., Direktur Direktorat BK Divisi Inklusi dan Pengembangan Karir Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dengan moderasi Dr. Apip Irmansyah, M.Pd. dari MAN 1 Garut. Paparan Dr. Yusi membawa peserta memahami bahwa nilai inti Ramadan—sabar, empati, dan ikhlas—bukan hanya dimensi spiritual, melainkan juga fondasi kompetensi seorang konselor yang efektif.
Lebih jauh, ia mengurai kompleksitas Generasi Z (lahir 1997–2012): melek digital sejak lahir, ekspresif, dan kritis terhadap otoritas, namun di sisi lain rentan terhadap kecemasan tinggi, depresi, adiksi gadget, krisis identitas, dan persoalan relasi sosial yang makin rumit. Tantangan ini, menurutnya, menuntut guru BK tidak sekadar reaktif, tetapi mampu mendampingi secara preventif dan berbasis empati mendalam.
Berangkat dari situ, Dr. Yusi menawarkan kerangka konseling praktis yang memanfaatkan momen Ramadan secara terstruktur: ibadah puasa dijadikan medium latihan pengendalian diri dan manajemen emosi melalui pendekatan CBT dan mindfulness; tadarus diintegrasikan sebagai bibliotherapy; sedangkan praktik zakat dan sedekah dimanfaatkan untuk membangun empati sosial siswa. Seluruh strategi ini diorganisasikan dalam tiga fase program BK Ramadan—asesmen awal, konseling intensif, serta evaluasi dan tindak lanjut—yang mencakup penguatan empat kompetensi kunci: spiritual, komunikasi aktif, literasi digital, dan koordinasi lintas pihak.
“Jangan mulai konseling dengan kritik atau penilaian. Pahami dulu apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan siswa—baru dari sana kita tentukan pendekatan yang tepat.”
— Dr. Yusi Riksa Yustiana, M.Pd., UPI
PENGUATAN KARAKTER SEBAGAI BEKAL MASUK PERGURUAN TINGGI
Memasuki sesi kedua, fokus beralih ke kesiapan siswa menghadapi seleksi perguruan tinggi. Dr. Muhammad Eri Hadiana, M.Pd., Kepala Pusat PMB UIN Sunan Gunung Jati Bandung, menegaskan bahwa di era yang berubah cepat ini, karakter tangguh, literasi digital, serta kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif adalah bekal yang tidak bisa ditawar. Nilai-nilai Al-Qur’an, ia tekankan, tetap menjadi landasan utama pendidikan karakter di tengah disrupsi teknologi.
SATU DEKADE KOLABORASI, SATU MISI BERSAMA
Keberhasilan webinar ini tidak lepas dari fondasi kemitraan yang telah terbukti kuat. Dalam laporannya, Ketua MGBK MA Jabar Siti Kulsum mengungkapkan bahwa kolaborasi antara MGBK MA Jawa Barat dan PMB UIN Sunan Gunung Jati Bandung telah berlangsung konsisten selama lebih dari satu dekade—sebuah ekosistem pendidikan yang dibangun di atas kepercayaan dan tujuan bersama.
“Semoga kegiatan ini memperkuat peran guru BK sebagai pendamping yang hadir dengan empati, kesadaran, dan profesionalisme dalam membimbing generasi madrasah menuju masa depan yang lebih bermakna.”
— Siti Kulsum, S.Psi., M.Pd., Ketua MGBK MA Provinsi Jawa Barat











.jpeg)



















.jpg)




.png)

.jpg)




.jpg)















.png)











.jpeg)




































