Loading...
Saturday, 19 Jan 2019

Universitas Pendidikan Indonesia

UPT Bimbingan dan Konseling dan Pengembangan Karir

MAU POSTING? UPSS…TUNGGU DULU…

Berita Umum | 08 November 2018 12:27 wib
Media sosial saat ini dianggap sebagai sarana atau tempat mengeluarkan unek-unek sehari-hari. Beragam aktivitaspun cenderung mendapatkan bagian untuk dipublikasikan setiap harinya

Kegiatan tersebut dimulai dari meng-update status di media sosial dan meng-upload foto-foto tentang aktivitas sehari-hari. Fitur-fitur di media sosial juga memberi kesempatan orang lain untuk bisa berselancar bebas melihat status dan foto-foto yang kita update. Nah, Apa yang anda pikirkan ketika membaca status teman anda yang umumnya berisikan keluhan? Seperti terlalu lelah menjalani aktivitas rutin dan selalu membandingkan masalahnya paling berat dibandingkan dengan orang lain.

Fenomena tersebut telah merambah menjadi kebiasaan yang dianggap biasa saja. Namun, jika di konfersikan berapa banyak status atau tulisan-tulisan yang kita upload mempengaruhi mood orang lain ketika membacanya? Atau malah memberikan efek kecenderungan mengeluh juga kepada orang lain?. Hal ini sangat berkaitan langsung dengan keterbukaan (self disclosure) yang kita miliki ketika memilah hal-hal yang layak untuk dibagikan dengan orang lain. Keterbukaan diri yang baik adalah mengungkapkan informasi diri secara tepat sehingga mampu menjadikan kita lebih bersikap positif, percaya diri, kompeten dan objektif.

Menurut Sidney Marshall Jourard seorang psychologist Kanada yang mengembangkan teori Keterbukaan diri (self disclosure) terdapat beberapa informasi pribadi yang sering di ungkapkan kepada orang lain umumnya berkisar pada aspek berikut: pertama, sikap atau opini berkenaan dengan kecenderungan perilaku atau pola pikir seseorang terhadap suatu hal yang mendasari pola bertindak dalam kehidupan sehari-hari meliputi agama, emosi, lingkungan, moralitas, dan seksualitas. Kedua, Selera atau minat berkenaan dengan kecenderungan seseorang dalam menyukai suatu hal, seperti makanan, musik, bacaan, tontonan, dan gaya hidup. Ketiga, pekerjaan atau pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam perencanaan karir seseorang untuk masa depan seperti pelajaran (bidang ilmu) yang disukai, kelebihan, kekurangan, apresiasi dan ambisi. Keempat, fisik berkenaan dengan tampilan jasmani seseorang seperti tampilan wajah, masalah kesehatan, olahraga dan diet. Kelima, keuangan berkenaan dengan masalah financial, yaitu berupa penghasilan/fasilitas yang dimiliki, hutang dan tabungan.

        Membuka diri secara tepat memang sangat dianjurkan akan tetapi anda juga harus mengetahui bahwa mengeluh bukanlah hal positif yang bisa dijadikan patokan untuk mengungkapkan informasi pribadi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi, memang manusia diciptakan untuk berkeluh-kesah. Akan tetapi terus menerus mengeluh menjadikan kita kurang bersyukur atas hal yang kita miliki saat ini. Beberapa hal yang dapat mengurangi aktivitas mengeluh adalah sebabagi berikut.

1. Memulai dengan Postingan Positif

Perlu diingat, bahwasanya status dan foto yang diunggah merupakan suatu hal yang bersifat “Interest” bagi kita. Maksudnya adalah apapun yang kita upload sedikit banyaknya merupakan deskripsi harapan, perasaan dan pendapat walaupun tidak semuanya mewakilkan diri kita. Daripada mengeluh kita bisa membuat kata-kata motivasi dan kata-kata berbau ‘’survive” dalam menghadapi kehidupan. Pun hal positif-positif yang anda publikasikan di media sosial tidak sedikutpun merugikan anda, malah menjadikan anda lebih bersemangat dan menginspirasi orang lain

2. Memulai Fokus dengan Hal yang telah Dimiliki

Jangan lupa bersyukur atas pencapaian yang telah dimiliki saat ini. Hal tersebut bisa dimulai dari hal kecil seperti menghargai kesehatan, pekerjaan, keluarga yang perhatian dan teman-teman yang selalu mensupport disegala kegiatan. Mulailah untuk menyadari hal-hal terbaik yang telah dimiliki tersebut, hal ini dapat dilakukan dengan mengingat usaha dan perjuangan yang telah kita lakukan sampai ke tahap ini. Kedua, menghargai jasa orang-orang yang telah berkontribusi untuk keberhasilan saat ini dan tidak melupakan kebaikan-kebaikan orang lain

3. Memulai untuk tidak Membandingkan Hal yang Dimiliki dengan Orang Lain

Pernahkah terbersit dalam benak anda bahwa kehidupan orang lain sangat sempurna? Kemudian membandingkan dengan kehidupan anda sekarang. Setelah itu apa yang anda dapatkan?  Apakah anda menjadi tambah bersyukur atau sebaliknya sering mengeluh berkepanjangan tanpa adanya perbaikan dalam diri ?. Membandingkan kebahagiaan diri sendiri dengan orang lain malah membuat kita kurang bersyukur dan selalu menyalahkan keadaan. Mulalilah untuk menghargai kelebihan dan keterampilan yang anda miliki dengan membuat suatu hal menarik dan membanggakan bagi anda dan orang sekitar (Fitra)

Link
Dilihat 38 kali